Terapi Okupasi

Pertanyaan

Saya disarankan untuk memberikan terapi okupasi terhadap orang tua saya, namun karena sudah renta, saya ragu atas arahan tersebut. Mohon informasinya apakah dimungkinkan Tindakan Terapi Okupasi untuk Lansia. Terima kasih.

Fauziah Khairunnisa Lubis | STIKES Murni Teguh Medan
Caretaker Future Leader 2021

Proses menua adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis, maupun sosial yang saling berkaitan satu sama lain. Umumnya, lansia mengalami penurunan kemampuan dalam beraktivitas sehari-hari seperti sulit menggerakan badan, sulit mengunyah makanan, sulit mengingat, dan masih banyak lagi. Penurunan tersebut disebabkan oleh penyakit degeneratif seperti stroke, alzheimer, parkinson hingga stres.

Stres merupakan salah satu masalah psikologis yang dapat dialami oleh lansia. Stres adalah reaksi tubuh terhadap sesuatu yang menimbulkan tekanan perubahan dan ketegangan emosi.  Salah satu jenis terapi yang dapat digunakan untuk mengurangi stres pada lansia yaitu terapi okupasi.  Terapi okupasi merupakan terapi yang terarah dan bertujuan di mana tidak ada waktu luang yang percuma tetapi semua waktu yang ada dapat dimanfaatkan untuk suatu kegiatan yang berguna bagi lansia. Terapi ini juga berfokus pada pengenalan kemampuan yang masih ada pada seseorang, pemeliharaan, dan peningkatan yang bertujuan untuk membentuk seseorang agar mandiri, tidak tergantung pada pertolongan orang lain1

 

Prinsip dari Terapi Okupasi ini adalah:

Lansia tidak merasa dipaksa, tetapi memahami kegiatan ini sebagai suatu kebutuhan dan akhir suatu keahlian yang dapat dijadikan bekal hidup sehingga lansia dapat memakai waktu luang atau pensiunnya untuk berkreasi dan beraktivitas. Terapi okupasi dilakukan secara terarah bagi lansia, baik fisik maupun mental, dengan menggunakan aktivitas sebagai media terapi dalam rangka memulihkan kembali fungsi tubuh sehingga lansia dapat mandiri semaksimal mungkin. Terapi okupasi dapat dilakukan dimanapun, namun biasanya pasien akan lebih nyaman di rumah sendiri sehingga terapi okupasi akan sangat efektif apabila dilakukan di rumah (perawatan home care).

 

Apa yang Dilakukan Seorang Ahli Terapi Okupasi?

Terapis okupasi membantu lansia mengatasi tantangan fisik dan memungkinkan mereka untuk kembali beraktivitas seperti biasa di rumah dan di luar rumah. Mereka mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti makan, berpakaian, belajar menggunakan fasilitas umum seperti telepon, TV, dan lainnya, baik dengan maupun tanpa alat bantu, mandi yang bersih, dan berbagai hal yang dilakukan sehari-hari sehingga lansia dapat mandiri dan beraktivitas sendiri dengan sesedikit mungkin meminta bantuan orang lain.2

Terapis okupasi juga membantu dalam penyesuaian emosional dan sosial setelah cedera atau penyakit. Salah satu peran paling penting seorang terapis okupasi yaitu membangun kemandirian pada orang tua. Dengan penjelasan tersebut, sangat penting dilakukannya terapi okupasi secara home care untuk meningkatkan kembali kesehatan pasien.

 

Terapi Okupasi & Terapi Fisik: Apa Perbedaannya?

Dalam rencana perawatan rumah (home care), mungkin dokter akan merekomendasikan untuk melakukan terapi okupasi dan terapi fisik.  Terapi okupasi adalah tentang teknis pelaksanaan kegiatan sehari-hari, terapi okupasi membantu lansia untuk melakukan kegiatan harian atau “pekerjaan” di rumah. Terapi okupasi cenderung lebih difokuskan pada peningkatan keterampilan dan sering melibatkan peralatan adaptif yang mengarah ke kehidupan yang lebih baik. Sedangkan, terapi fisik bertujuan untuk meningkatkan mobilitas. Terapi fisik lebih cenderung memfokuskan pada sumber cedera seperti rusaknya jaringan, otot, dan struktur pada tubuh. Ketika lansia mengalami lengan yang patah, terapi fisik akan memulihkan mobilitas pada tangan dan siku.

Setelah itu, terapi okupasi dapat membantu orang tua untuk mempelajari kembali menggunakan peralatan makan dan tugas-tugas sehari-hari seperti menyisir rambut, menggunakan alat tulis, dan menjahit. Dalam proses pemulihan, biasanya seorang dokter akan memberikan rekomendasi untuk melakukan perawatan terapi secara bersamaan atau sepaket, karena terapi fisik dan terapi okupasi saling berkaitan.3

Kedua terapi tersebut pada dasarnya sama-sama penting untuk kondisi kesehatan pasien dan dapat dilakukan di rumah (perawatan home care).

Manfaat Terapi Okupasi untuk Lansia

Lansia memiliki kebutuhan, tujuan, dan tantangan yang berbeda berdasarkan situasi dan keadaan pribadi mereka. Terapi okupasi melibatkan proses mengidentifikasi cara terbaik untuk membangun kemandirian, terutama untuk penerapan terapi okupasi yang dilaksanakan secara optimal di rumah (home care). Berikut ini adalah manfaat terapi okupasi untuk lansia :

  • Melakukan kegiatan rumah tangga

Terapi okupasi membantu lansia untuk melakukan kegiatan rumah tangga. Terapis dapat membantu lansia untuk belajar tugas sehari-hari yang mungkin sulit dilakukan karena terbatasnya kondisi tubuh. Melalui berbagai strategi, penyesuaian, dan praktik-praktik, terapis dapat membantu lansia melakukan mandi dan berpakaian sendiri, makan dengan menyuap sendiri, duduk dari posisi tidurnya sendiri, mengurus rumah, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

  • Mobilitas

Terapi okupasi juga terlibat dalam proses membantu kebutuhan mobilitas, seperti berjalan dengan menggunakan kaki dan menggunakan kursi roda. Lansia dapat melakukan perjalanan ke taman atau ke rumah kerabat.

  • Mencegah Jatuh

Jatuh adalah penyebab paling umum cidera pada lansia dan terapi okupasi dapat membantu mereka untuk melakukan praktek serta strategi mencegah atau melindungi diri dari jatuh. Terapi okupasi membuat lansia lebih aman saat di rumah.

  • Kesehatan mental

Terapi okupasi dapat memberikan dampak yang berarti pada keadaan kesehatan mental yang lansia alami. Terapi okupasi dapat membantu untuk mengurangi tingkat kecemasan terkait dengan kekhawatiran atas kemampuannya untuk melakukan tugas-tugas harian secara mandiri dan dapat membantu lansia untuk mencapai tujuan kebahagiaan.1

 

 

Referensi

1 Riyadi, S. Dan Purwanto, T. 2009. Asuham Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha Ilmu.

2 Maryam, R. Siti, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika

3 Setiawan, Herman Adi. 2009. Kemandirian pada lansia. Tugas Keperawatan Gerontik. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen.